Ajak Wik Wik Adik Kelas di Toilet Mall Jimbaran, Siswa Asal Jepang Terancam 7,5 Tahun
Kasus Kematian Sekeluarga di Kalideres, Diduga Sang Anak Meninggal Terakhir

TUNGGU LABKRIM-Hasil penyelidikan diduga anak meninggal terakhir dalam kematian keluarga di Kalideres.
NETIZENINDONESIA.ID–Setelah beberapa pecan dilakukan penyelidikan secara perlahan kasus kematian sekeluarga di Kalideres mulai menemui titik terang. Direskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Hengki Haryadi menduga orang terakhir yang meninggal dalam kematian satu keluarga di Kalideres adalah Dian Febbyana (42), anak dari Rudiyanto Gunawan (71) dan Reni Margaretha (68)
Dugaan kuat itu kata Hengki berdasarkan posisi mayat dari Dian saat di lokasi kejadian atau tempat kejadian perkara (TKP). “Pada saat di TKP, posisinya adalah di dalam kamar bersama jemazah ibunya yang sudah terjadi mumifikasi, namun terlihat terawat,” ucapnya seperti dilansir dari laman humas polri, Minggu (27/11/2022).
Hengki juga mengatakan, selain dari jenazah yang terawat, kasur yang menjadi alas tidur Dian pun nampak rapi. “Maksudnya alas tidurnya rapi, kasurnya rapi. Ada kain di bawah jenazah ibunya. Dan jenazah Dian ada di sebelahnya sambil memeluk guling. Dan kamar di kunci dari dalam,” katanya.
Satu keluarga yang tewas dalam rumah ini adalah pasangan suami istri Rudyanto Gunawan dan Renny Margaretha, serta anak mereka Dian Febbyana dan Budyanto Gunawan, adik Rudyanto.
Terbaru, kata Hengki ada temuan kotak susu bayi di lokasi kejadian. Ini menambah misteri penyebab tewasnya satu keluarga tersebut. Penemuan kotak susu bayi di tempat sampah rumah keluarga diungkapkan oleh Tio (58) tetangga korban.
Tio menjelaskan penghuni lama yang tinggal di seberang rumah korban, mengaku pernah melihat ada kotak susu bayi di tempat sampah rumahnya. Tio, saat itu diminta untuk mengecek apakah keluarga tersebut memiliki bayi atau tidak.
Namun, kata Tio, ia tak melihat ada kotak susu yang dimaksud. Saat Tio naik ke atas loteng rumahnya untuk melihat loteng rumah tetangganya, ia hanya melihat jemuran. Namun, tidak ada jemuran baju bayi di atas loteng rumah tersebut.
Selain itu kata Tio, ia juga tidak pernah mendengar suara bayi di rumah tersebut selama bertetangga dengan korban.
“Dulu penghuni lama sebelah rumah Pak RT bilang, ‘lihat tuh ada kotak susu bayi, kamu sebelahan masa gatau’. Lalu, dia minta saya mengecek ‘tengok ada bayi tidak?” ujarnya memeragakan.
“Saya naik ke atas loteng, enggak ada bayi tapi ada jemuran. Tidak ada suara bayi dan enggak ada jemur baju bayi,” lanjut Tio.
Selain itu, Hengki menuturkan pihaknya bersama tim ahli psikologi forensik juga tengah melakukan penelitian terkait latar belakang korban. Penelitian tersebut turut menyangkut penggunaan dua handphone yang dipakai untuk empat orang dalam satu rumah.
Dalam handphone itu, ditemukan percakapan yang berisi kata-kata tentang emosi. Komunikasi tersebut satu arah dari handphone satu ke handphone yang lain.
Meski banyak kalimat terkait ungkapan emosi, diklaim tata bahasa yang digunakan dalam handphone itu baik.(nto)