PK Dikabulkan, Penyelundup Heroin Lolos Hukuman Mati

 PK Dikabulkan, Penyelundup Heroin Lolos Hukuman Mati

INI BUKTINYA-Robert Khuana menunjukkan salinan putusan PK kliennya dari Mahkamah Agung RI.

DENPASAR, NETIZENINDONESIA-Terpidana mati kasus penyelundupan narkotika asal Sierra Lione, Emmanuel O Ihejirika, 31, yang sempat masuk daftar akan ditembak mati pada 2014 lalu kini bisa bernafas lega. Mahkamah Agung (MA) RI akhirnya mengabulkan PK (Peninjauan Kembali) yang diajukan Emmanuel melalui penasihat hukumnya, Robert Khuwana dan Dr. Frans Hendra Winarta.

Dalam petikan putusan MA tertanggal 7 Mei 2019 lalu, Hakim Agung, Prof Surya Jaya menyatakan mengabulkan permohonan PK yang diajukan terpidana mati Emmanuel O Ihejerika dan membatalkan putusan MA nomor 200 K/Pid/2005 tanggal 25 Maret 2005. Dalam putusan MA tersebut, terpidana yang merupakan pedagang obat di negaranya ini dijatuhi hukuman mati.

Sementara dalam putusan PK menyatakan terpidana Emmanuel terbukti sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana mengimpor narkotika golongan I yaitu heroin seberat 467 gram. Menjatuhkan pidana penjara selama 20 tahun dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan penjara.

Robert Khuwana yang ditemui, Senin (13/9) mengatakan dengan putusan PK yang menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara,  maka Immanuel yang sudah menjalani penahanan sejak 2004 lalu bisa bebas pada 2024 mendatang. Jika dikurangi remisi semenjak putusan ini dibacakan yaitu pada Mei 2019 lalu, Immanuel bisa saja bebas lebih cepat. “Kami sebenarnya sudah menerima petikan putusan sejak November 2019 lalu. Tapi salinan putusan baru kami dapatkan beberapa hari lalu,” tegas Robert.

Setelah menerima putusan PK ini, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan jaksa untuk melakukan eksekusi. Selanjutnya, pihaknya akan mengurus remisi yang didapatkan terpidana sejak putusan ini dibacakan. “Kami juga akan mengajukan permohonan ke Kemenkumham untuk bisa memindahkan penahanan Immanuel dari Lapas Nusa Kambangan ke Lapas Porong atau Lapas Kerobokan,” ujar pengacara senior ini.

Terkait dengan asal O lhejerika disebutkan Robert Khuana sebenarnya dari Nigeria. Kepastian itu setelah berkoordnasi dengan Kedubes Nigeria di Jakarta. Selain itu, sempat dilakukan tes DNA Immanuel dengan menggunakan air liur saudaranya yang tinggal di Nigeria di RS Sanglah. “Kami juga hadirkan saksi saudara kandung Emmanuel sebagai saksi sidang PK di PN Denpasar,”terang mantan Ketua AAI Denpasar ini.

Menariknya lagi, putusan permohonan PK ini, sempat mundur beberapa tahun lamanya. Pasalnya, berkas sidang PK sempat hilang di PN Denpasar. Setelah ditelusuri akhirnya berkas dapat ditemukan dan bisa sampai di tangan majelis hakim di MA. “Sebenarnya ada pelanggaran hak asasi juga, karena berkas hilang hingga turunnya putusan PK dari MA menjadi terlambat,”imbuh Robert Khuana.  

Seperti diketahui, Immanuel  ditangkap Bea Cukai Bandara Ngurah Rai pada 2004 lalu karena menyelundupkan 31 butir kapsul berisi heroin seberat 461 gram. Selanjutnya dalam persidangan di PN Denpasar, Immanuel dijatuhi hukuman seumur hidup. Lalu dalam tingkat banding di PT Denpasar, hukuman Immanuel naik jadi hukuman mati. Hukuman mati ini diperkuat lagi dalam putusan kasasi di MA nomor 200 K/ Pid/2005 tanggal 25 Maret 2005. (ais)

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *