Utang 2 M Bengkak Jadi 9 M, Redy Nobel: Kembalikan SHM dan Bayar Ganti Rugi 150 Juta

 Utang 2 M Bengkak Jadi 9 M, Redy Nobel: Kembalikan SHM dan Bayar Ganti Rugi 150 Juta

SIDANG GUGATAN-Penggugat melalui kuasa hukumnya Redy Nobel dkk meminta hakim mengabulkan seluruh gugatannya.

DENPASAR, NETIZENINDONESIA-Sidang gugatan utang Rp 2 miliar yang bengkak menjadi Rp 9 miliar di PN Denpasar Senin (8/11) memasuki agenda kesimpulan. Penggugat, I Nyoman Sutara dan I Made Wirawan memohon kepada majelis hakim yang diketuai Angeliky Handajani Dai mengabulkan gugatan yang salah satunya mengakui jika penggugat memiliki utang Rp 2 miliar kepada tergugat Anna Lukman sesuai Akta Pengakuan Utang No 6 tanggal 6 April 2021.

“Menghukum para tergugat untuk membayar ganti rugi materil kepada penggugat sebesar Rp 150 juta,” ujar kuasa hukum penggugat, Redy Nobel dalam kesimpulannya. Redy juga meminta tergugat mengembalikan sertipikat Hak Milik nomor  1533/Kelurahan Seminyak, Kuta yang selama ini dijaminkan.

Selanjutnya majelis hakim juga diminta membatalkan Akta lainnya selain Akta Pengakuan Utang No 6 tanggal 6 April 2021. Pembatalan itu untuk Akta Kesepakatan Bersama no 7, akta pengikatan jual beli no 08, akta kuasa untuk menjual no 9 dan akta perjanjian pengosongan no 10. “Kami berharap majelis hakim mengabulkan seluruh gugatan kami,” pungkas pengacara yang hoby menyanyi ini.

Gugatan ini berawal saat I Nyoman Sutara dan I Made Wirawan meminjam uang Rp 2 miliar untuk usaha kepada Anna Lukman dengan jaminan tanah seluas 500m2 di Seminyak. Lalu pada 6 Januari 2021 Anna mencairkan dana pinjaman Rp 1.480.000.000 kepada penggugat dengan tempo pembayaran 3 bulan. Pinjaman Rp 2 miliar yang cair saat itu dipotong biaya adiministrasi dan lainnya 25 persen. Sehingga penggugat hanya mendapat Rp 1.480.000.000.

Penggugat juga menandatangi akta pengakuan utang nomor 06 di depan notaris Ni Wayan Trinadi. Selain itu, ada beberapa akta lainnya yang ikut ditandatangani. Nah, pada 8 Mei 2020, penggugat baru mengetahui ternyata dari beberapa akta yang ditandatangani diantaranya akta kesepakatan bersama nomor 07, akta pengikatan jual beli nomor 08, akta kuasa untuk menjual tanah nomor 09 dan akta pengosongan lahan nomor 10.

Setelah jatuh tempo pada April 2021, penggugat yang belum bisa membayar utang karena kondisi pandemi Covid-19 meminta waktu kepada tergugat namun tidak dijawab. Malah penggugat ditekan oleh tergugat untuk mendatangani surat pernyataan utang Rp 9 miliar. Tak tahan dengan tekanan, penggugat mencari pinjaman untuk melunasi utang Rp 2 miliar ini. Namun setelah mendapat uang Rp 2 miliar, tergugat tidak mau menerima dan tetap Rp 9 miliar. Dengan ancaman jika tidak bisa membayar selama 1 bulan maka tanah yang dijaminkan akan dijual untuk menutupi utang. (ais)

“Menghukum para tergugat untuk membayar ganti rugi materil kepada penggugat sebesar Rp 150 juta,” ujar kuasa hukum penggugat, Redy Nobel dalam kesimpulannya. Redy juga meminta tergugat mengembalikan sertipikat Hak Milik nomor  1533/Kelurahan Seminyak, Kuta yang selama ini dijaminkan.

Selanjutnya majelis hakim juga diminta membatalkan Akta lainnya selain Akta Pengakuan Utang No 6 tanggal 6 April 2021. Pembatalan itu untuk Akta Kesepakatan Bersama no 7, akta pengikatan jual beli no 08, akta kuasa untuk menjual no 9 dan akta perjanjian pengosongan no 10. “Kami berharap majelis hakim mengabulkan seluruh gugatan kami,” pungkas pengacara yang hoby menyanyi ini.

Gugatan ini berawal saat I Nyoman Sutara dan I Made Wirawan meminjam uang Rp 2 miliar untuk usaha kepada Anna Lukman dengan jaminan tanah seluas 500m2 di Seminyak. Lalu pada 6 Januari 2021 Anna mencairkan dana pinjaman Rp 1.480.000.000 kepada penggugat dengan tempo pembayaran 3 bulan. Pinjaman Rp 2 miliar yang cair saat itu dipotong biaya adiministrasi dan lainnya 25 persen. Sehingga penggugat hanya mendapat Rp 1.480.000.000.

Penggugat juga menandatangi akta pengakuan utang nomor 06 di depan notaris Ni Wayan Trinadi. Selain itu, ada beberapa akta lainnya yang ikut ditandatangani. Nah, pada 8 Mei 2020, penggugat baru mengetahui ternyata dari beberapa akta yang ditandatangani diantaranya akta kesepakatan bersama nomor 07, akta pengikatan jual beli nomor 08, akta kuasa untuk menjual tanah nomor 09 dan akta pengosongan lahan nomor 10.

Setelah jatuh tempo pada April 2021, penggugat yang belum bisa membayar utang karena kondisi pandemi Covid-19 meminta waktu kepada tergugat namun tidak dijawab. Malah penggugat ditekan oleh tergugat untuk mendatangani surat pernyataan utang Rp 9 miliar. Tak tahan dengan tekanan, penggugat mencari pinjaman untuk melunasi utang Rp 2 miliar ini. Namun setelah mendapat uang Rp 2 miliar, tergugat tidak mau menerima dan tetap Rp 9 miliar. Dengan ancaman jika tidak bisa membayar selama 1 bulan maka tanah yang dijaminkan akan dijual untuk menutupi utang. (ais)

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *