Pandemi, PN Denpasar Tuntaskan Ratusan Perkara

 Pandemi, PN Denpasar Tuntaskan Ratusan Perkara

SIDANG JERINX-Perkara ujaran kebencian dengan terdakwa Jerinx paling menyita perhatian publik.

DENPASAR, NETIZENINDONESIA-Masa pandemi covid-19 menjadi beban berat bagi Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. Sebagai salah satu lembaga pelayanan publik, pengadilan harus tetap memberikan pelayanan bagi masyarakat pencari keadilan. Ada ratusan perkara pidana dan perdata yang harus diselesaikan PN  Denpasar selama tahun 2020. Menurut jubir PN Denpasar, Made Pasek, Kamis (31/12)selama satu tahun ini, perkara tertinggi yang harus disidangkan di PN Denpasar masih kasus narkotika, urutan kedua ditempati perkara perdata khususnya perceraian. Selain itu, masih ada perkara korupsi meski jumlahnya sedikit. Diantara kasus pidana umum paling menyita perhatian publik adalah kasus ujaran kebencian dengan terdakwa musisi I Gede Ari Astina. “Astungkare meski dalam kondisi pandemi, kita masih mampu menyelesaikan  perkara masuk, baik secara online, maupun offline. Tapi kalau jumlah perkaranya  tidak hafal, pastinya mencapai ratusan,”tutur Made Pasek.

Hakim senior yang pengalaman tugas di kawasan timur Indonesia ini menambahkan kendati kasus Jerinx paling banyak menyita perhatian publik  proses persidangan sejak awal hingga putusan berlangsung aman terkendali. Pengetatan protokol kesehatan yang diterapkan PN Denpasar, Polisi/TNI, Sat Pol PP turut menyumbang suksesnya persidangan. Masa pendukung Jerinx bisa dikendalikan dengan baik meski awalnya ada aksi unjuk rasa.  Penerapan sidang secara online tegas Made Pasek menngacu pada Peraturan Mahkamah Agung (Perma) RI  dimasa pandemi. “Ini sekaligus upaya percepatan PN Denpasar menuju modernisasi sebagaimana ditetapkan MA,”imbuh Made Pasek.

Terkait persidangan masa pandemi, Ketua MA, H.M.Syarifuddin dalam keterangan pers yang disiarkan secara daring menyatakan munculnya wabah covid-19 menjadi musibah bagi seluruh umat manusia. Akan tetapi musibah itu memberikan pula hikmah positif bagi terselenggaranya persidangan elektronik yang lebih cepat dan hemat. “MA bertekat memberikan pelayanan hukum dalam kondisi apapun, fiat justitia ruat caelum, keadilan harus tetap ditegakkan meksipun langit akan runtuh,”ujar KMA Syarifuddin.

Ditambahkan, situasi ini menurut Syarifuddin merupakan ujian bagi MA untuk membuktikan kesiapan dalam pelaksanaan peradilan elektronik sebagai wujud dari konsep peradilan modern. Selama tahun ini, MA disebutkan telah memutus perkara sebanyak 20.550 dari jumlah beban perkara tahun 2020 sebanyak 20.749 atau sebesar 99.04 persen.”Capaian tersebut menunjukkan peningkatan kinerja penanganan perkara di MA, meski banyak hakim, pegawai yang meninggal akibat covid-19,’ungkap Syarifuddin. (ton)

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *