Oknum Sulinggih Divonis 4,5 Tahun, Ini Salahnya…

 Oknum Sulinggih Divonis 4,5 Tahun, Ini Salahnya…

TEGANG-Ketua Majelis Hakim, Made Pasek membaca amar putusan terdakwa oknum Sulinggih di PN Denpasar.

DENPASAR, NETIZENINDONESIA- Sidang kasus pencabulan dengan terdakwa oknum Sulinggih (Pendeta Hindu) I Wyn Mahardika atau Ida Pandita Nabe Bagawan Rsi Agung Sidimantra memasuki babak akhir. Majelis Hakim Pengadilan Nengeri (PN) Denpasar yang diketuai Made Pasek menyatakan sependapat dengan jaksa penuntut umumm (JPU) Purwanti bahwa terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencabulan terhadap korban KYD.

“Terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dalam kekerasan atau melakukan kekerasan memaksa seseorang melakukan perbuatan-perbuatan cabul sebagaimana dakwaan primer penuntut umum. Menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa selama 4 tahun dan 6 bulan,” tegas Made Pasek dalam terbuka secara virtual, Selasa (08/06/2021).

Putusan tersebut lebih rendah dari tuntutan jaksa yang menutut hukuman 6 tahun penjara. Adapun pertimbangan hakim dalam amar putusannya menyebutkan yang memberatkan perbuatan terdakwa dilakukan pada wanita yang menganggap terdakwa guru sepiritual yang harus dihormati. Kedua perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat khususnya umat Hindu dan ketiga terdakwa berusaha memungkiri perbuatannya. Sementara yang meringankan terdakwa bersikap sopan selama persidangan dan memiliki anak masih kecil.

Menanggapi putusan hakim, terdakwa melalui penasehat hukummya langsung mengajukan banding. “Kami dari tim kuasa hukum pertama menghormati putusan majelis hakim, namun kami tidak sependapat dengan pertimbangan-pertimbangan hukum yang dipakai untuk menjatuhkan putusan yaitu pengenaan pasal 289 KUHP sebagaimana tuntutan jaksa,” ungkap penasihat hukum terdakwa, I Komang Darmayasa dikonfirmasi terpisah.

Darmayasa mengatakan, bedasarkan fakta hukum terdakwa tetap bersikukuh menyangkal bahwa kejadian pencabualan itu tidak pernah terjadi. “Hasil visum at repertum kesimpulannya tidak ada kekerasan, saksi fakta yang mengetahui langsung kejadian tidak ada, dan banyak lagi fakta-fakta hukum yang janggal dalam perkara ini,” ungkapnya.

Peristiwa yang dialami korban terjadi Sabtu 4 Juli 2020 sekira pukul 01.00 Wita di Tukad Campuhan Pakerisan Desa Tampak Siring, Gianyar. Kala itu,  korban menjalani ritual pelukatan (pembersihan) yang mana terdakwa bertindak selaku penyembuh. Saat itu memang ada yang diusut (diraba) oleh terdakwa, dimana perasaan saksi korban fokus hanya untuk diobati. Namun rabaannya berlanjut hingga kebagian payudara diraba pelan, diremas hingga berlanjut ke bagian kewanitaannya. (ais)

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *