Gerayangi Murid Les, Pensiunan Guru SD Dituntut 12 Tahun

 Gerayangi Murid Les, Pensiunan Guru SD Dituntut 12 Tahun

Ilustrasi

DENPASAR,NETIZENINDONESIA- Nyoman S, bisa dikata guru tak pantas digugu dan ditiru. Dia bukannya mencerdaskan murid melainkan malah melakukan tindakan tak terpuji terhadap muridnya. Karenanya, jaksa Widyaningsih menutut hukumann 12 tahun penjara.  Kakek 67 tahun tersebut ujar jaksa usai sidang tertutup di PN Denpasar, Selasa (4/5/2021) dinilai bersalah telah melakukan tindak pidana pencabulan terhadap korban anak di bawah umur. Dimana perbuatan itu dilakukan terdakwa saat korban sedang menerima les pelajaran.

Perbuatan terdakwa kata jaksa Widyanigsih melanggar  Pasal 82 Ayat (1) UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-undang Jo. Pasal 76 E Undang-undang No. 35 Tahun 2014 tentang Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

“Menuntut terdakwa pidana penjara selama 12 tahun dan pidana denda sebesar Rp 1 miliar yang bilamana tidak dapat dibayarkan maka dapat digantikan dengan penjara selama tiga bulan,” tegas  Jaksa Widyaningsih  dalam tuntutannya pada majelis hakim pimpinan  hakim Putu Gde Novyartha.

Untuk diketahui perbuatan cabul dilakukan terdakwa ini terjadi ketika mengajar les matematika kepada korban di rumah korban di seputaran Jalan Tukad Musi, Denpasar Selatan pada 6 November 2020 lalu. Lansia asal Desa Dangin Puri, Denpasar Timur ini, saat itu meraba bagian dada korban yang berumur 11 tahun. Lantaran mendapat perlakuan yang tak senonoh, korban langsung pergi sambil menangis. Korban kemudian menceritakan kejadian itu ke ibunya.

Dari hasil Visum Et Repertum Psikiatrikum, menunjukkan korban mengalami depresi berat setelah menjadi korban pencabulan dari guru lesnya itu.  Korban alami gangguan mental berupa Episode Depresi Berat Dengan Gejala Psikotik (F32.3) dan Gangguan Stres Pasca Trauma (F43.1) yang menggangu fungsi sosial dan interpersonal serta aktivitas kesehariannya. Sifat itu muncul sejak peristiwa pencabulan yang dialami. Terdakwa dalam menanggapi tuntutan Jaksa, meminta pihak kuasa hukumnya untuk mengajukan pembelaan secara tertulis. (maw)

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *