Bentrok Antar Buruh di Kampung Turis Canggu, Tujuh Pelaku Diamankan

 Bentrok Antar Buruh di Kampung Turis Canggu, Tujuh Pelaku Diamankan

MASUK PENYIDIKAN-Ketujuh pelaku bentrok di Canggu diamankan guna menjalani proses hukum.

BADUNG, NETIZENINDONESIA-Kasus bentrok antar kelompok buruh bangunan di kawasan Canggu, Kuta Utara, Badung pada Sabtu (13/11/2022) dinihari lalu berlanjut ke proses hukum.

Dalam peristiwa itu, diketahui mengakibatkan satu korban mengalami luka tusuk di bagian punggung. Tak hanya itu, bedeng salah satu kelompok buruh ikut dibakar. Peristiwa yang menegangkan itu terjadi di dua TKP. Awalnya terjadi di bedeng proyek di Jalan Short Cut, Desa Canggu Canggu dan Desa Tibuneneng. Perkelahian di bedeng itu meluas ke Lapangan Umum Brawa, Jalan Pantai Brawa, Banjar Tegal Gundul, Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Badung.

Polsek Kuta Utara yang lakukan penyeljdikan mengamankan 17 orang, 7 orang diantaranya ditetapkan sebagai tersangka. Satu orang berperan sebagai penusuk punggung korban, sementara sisanya membawa sajam saat terjadi penyerangan.

Kasi Humas Polres Badung, Iptu Ketut Sudana dalam keterangan persnya, dikutip dari Humas Polri Selasa (15/11/2022) membeberkan tujuh orang yang ditetapkan sebagai tersangka adalah, Anselinus (penusuk punggung korban), Dominggus Duka Mete, Rafael Ramone, Kornelis Dughu, Tinus Kaliyo, Frans Bokol, dan Marten Ole. Mereka dijerat Pasal 351 KUHP, tentang Pengeroyokan, dengan ancaman hukuman maksimal 9 tahun penjara.

“Barang bukti yang diamankan berupa 6 bilah pisau dan sebilah sabit. Tersangka dan barang bukti sudah diamankan di Mapolsek Kuta Utara. Sementara korban masih dirawat intensif di TSD Mangusada, Kapal, Mengwi, Badung,” beber Iptu Ketut Sudana.

Ditambahkan, sejatinya baik kelompok korban maupun pelaku sebenarnya sama-sama buruh proyek dan tinggal di bedeng yang sama. Pada malam kejadian, kedua kelompok ini terlihat perselisihan hingga berujung saling serang. Bedeng tempat mereka tinggal dibakar dan perkelahian meluas ke Lapangan Umum Brawa.

“Peristiwa itu terjadi hanya karena salah paham di antara kedua kelompok yang merupakan sesama buruh proyek. Perselisihan yang tidak menemukan jalan keluarnya itu berujung saling serang,” tandasnya. (nto)

netizenindonesia

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *