Advokat Teddy Raharjo Sebut Jaksa Abaikan Fakta Sidang

 Advokat Teddy Raharjo Sebut Jaksa Abaikan Fakta Sidang

MINTA BEBAS-Sidang lanjutan Teddy Raharjo dengan agenda pembelaan di Gedung Pengadilan Tipikor, Denpasar.

DENPASAR, NETIZENINDONESIA-Oknum pengacara, R. Tedy Raharjo, 55, yang sebelumnya dituntut 5 bulan penjara dalam kasus penggelapan uang 30 juta, Kamis (19/8) mendapatkan kesempatan membela diri. Melalui tim pembela dari LBH Advokasi Peduli Bangsa KAI Bali, yang dikoordinatori Lukas Banu, menyatakan tuntutan jaksa mengada-ada, tidak memperhatikan fakta hukum persidangan. Raymon Simamora yang membacakan pledoi Teddy Raharjo menegaskan berdasarkan fakta sidang, pelapor (Erwandi Ibrahim) belum memberikan jasa hukum pada terdakwa selaku penasihat hukumnya. Justeru terdakwa Teddy yang  mengeluarkan uang untuk biaya konsumsi, transportasi, biaya komunikasi, biaya memperbaiki (service) mobil lebih dari Rp.10.000.000,-.

Bahwa mobil yang dijual seharga Rp.40.000.000 tanggal 08 Januari 2018, terdakwa telah menstransfer  Rp.10.000.000 dan sisannya Rp.30.000.000. Terdakwa dengan Erwandi Ibrahim juga terikat kesepakatan apabila mobil terjual maka hasilnya dibagi dua. Bahwa ditengah persidangan perkara ini terdakwa sudah memberikan semua hasil penjualan mobil tersebut sebesar Rp.30.000.000 melalui pengacaranya. Sehingga terdakwa tidak menikmati 50% dari hasil penjualan mobil tersebut, bahkan terdakwa tidak mendapat uang sama sekali dari jasa lawyer. “Sebaliknya Erwandi Ibrahim-lah yang memperoleh keuntungan, karena sudah terjual walaupun BPKB mati 7 (tujuh) tahun,”ungkap Raymond Simamora.

Ditambahkan,  keterlambatan pembayaran kepada Erwandi Ibrahim adalah suatu perbuatan  ingkar janji atau wanprestasi sehingga tidak tepatlah kalau terdakwa di dakwa dengan Pasal 372 KUHP. Semestinya ini adalah perkaranya ranah hukum perdata, dan kode etik dari organisasi qdvokat. ‘Semestinya terdakwa cukup digugat secara hukum perdata dan dilaporkan ke organisasi advokat dan terdakwa sebenarnya cukup menjadi sidang kode etik advokat,”imbuhnya.

Berdasarkan dalil diatas , tim pembela Teddy Raharjo menegaskan terdakwa tidak menerima sepeserpun dari pelapor Erwan Ibrahim, maka yang menjadi rugi secara nyata secara materil adalah terdakwa itu sendiri. Oleh karena terdakwa sudah rugi lebih dari Rp.10.000.000,- (Sepuluh juta rupiah) di tuntut 5  bulan  penjara, tuntutan jaksa dinilai mengada-ada. Jaksa dinilai telah menutup mata fakta persidangan yang mulia ini. “Karena pelapor tidak mengalami kerugian sama sekali sebagaimana yang terungkap dalam persidangan, maka kami memohon majelis hakim mengabaikan tuntutan JPU dan membebaskan terdakwa dari segala tuntutannya,” harap tim pembela Teddy Raharjo. (ais)

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *