Raden Reydi Nobel Tempuh Jalur Hukum Usai Akses MR Glamping Pancasari Buleleng Terputus

 Raden Reydi Nobel Tempuh Jalur Hukum Usai Akses MR Glamping Pancasari Buleleng Terputus

Reydi Nobel Kristoni melaporkan perusakan jalan menuju MR Glamping di Pancasari Buleleng ke Polda Bali.

NETIZENINDONESIA.ID– Konflik dampak pengerukan tanah sekitar MR Glamping Pancasari menyeret pengusaha wisata di Buleleng ke ranah hukum.

Owner MR Glamping Villa di kawasan Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Raden Reydi Nobel Kristoni, resmi melaporkan dugaan perusakan properti ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Bali, Senin sore (26/1/2026).

Laporan tersebut dilayangkan menyusul aktivitas pengerukan tanah menggunakan alat berat di sekitar lokasi usahanya yang berujung pada runtuhnya fondasi bangunan vila serta terputusnya akses jalan utama menuju area glamping.

Reydi Nobel mengungkapkan, persoalan bermula dari kegiatan pembersihan saluran air di Banjar Lalanglinggah, Desa Pancasari.

Berdasarkan informasi yang ia terima dari salah satu staf pengawas Dinas Pekerjaan Umum (PU) di lokasi, pengerukan dilakukan di luar proyek gorong-gorong resmi dan disebut-sebut hanya berdasarkan permintaan lisan warga setempat.

Namun, aktivitas tersebut diduga dilakukan tanpa perhitungan teknis yang memadai. Akibatnya, fondasi bangunan bagian belakang MR Glamping Villa runtuh sepanjang kurang lebih 20 meter.

Dampak terparah terjadi pada aksesibilitas, di mana dua jembatan utama yang selama ini menjadi jalur masuk dari sisi barat dan timur mengalami kerusakan berat hingga tak bisa dilalui.

Kondisi ini memaksa Reydi Nobel menutup total operasional usahanya. Tidak adanya akses jalan membuat tamu maupun pengelola tidak dapat masuk ke area vila.

“Posisinya terputus dan rusak, jadi kami sama sekali tidak punya akses jalan. Untuk sementara kami tutup, tidak bisa beroperasi,” kata Reydi Nobel.

Ia memperkirakan kerugian material sedikitnya mencapai Rp 50 juta, belum termasuk potensi kehilangan pendapatan akibat terhentinya aktivitas wisata.

Situasi tersebut kian memberatkan karena sebelumnya kawasan MR Glamping Villa juga sempat terdampak banjir besar.

“Kondisi saya seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Kami baru kena banjir, sekarang akses jalan malah terputus. Harapan saya ada solusi terbaik. Saya mohon dinas terkait, terutama Dinas PU, bisa segera memberi solusi perbaikan agar usaha kami bisa kembali berjalan,” ujarnya.

Hingga kini, Reydi Nobel mengaku belum mengetahui secara pasti pihak yang menginisiasi pengerukan tersebut.

Meski demikian, ia telah menyerahkan sejumlah barang bukti kepada penyidik, mulai dari rekaman CCTV, dokumentasi foto kerusakan, hingga daftar saksi yang melibatkan Perbekel dan Kepala Dusun setempat.

“Siapa pelakunya nanti menjadi kewenangan penyidik. Yang jelas, seluruh bukti dan saksi sudah kami serahkan,” tegasnya.(*)

netizenindonesia

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *