Ajak Wik Wik Adik Kelas di Toilet Mall Jimbaran, Siswa Asal Jepang Terancam 7,5 Tahun
Darurat Sampah Pantai Badung, KKSS dan Warga Bergerak di Tengah Musim Angin Barat

Ketua KKSS Bali H. Zainal Tayeb memimpin aksi bersih-bersih Pantai Legian bersama komunitas masyarakat pada Minggu (8/1).
NETIZENINDONESIA.ID-Persoalan sampah yang kembali mengotori pesisir pantai di Badung, Bali, menuai keprihatinan luas. Tak hanya pemerintah dan pengelola pantai, berbagai komunitas masyarakat turut turun tangan. Salah satunya Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Bali.
Bersama masyarakat setempat, para pedagang, komunitas warga Nusa Tenggara Timur (Flobamora), serta pengelola Pantai Desa Adat Legian, KKSS menggelar aksi bersih-bersih pantai pada Minggu (8/1).
Ketua KKSS Bali, H. Zainal Tayeb, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar membersihkan pantai, tetapi juga menjadi ruang mempererat kerukunan lintas komunitas.
“Selain membersihkan pantai, kegiatan ini bertujuan memperkuat kebersamaan dan kerukunan antarwarga dari berbagai latar belakang,” ujar Zainal Tayeb di sela kegiatan.
Ia menyebutkan, partisipasi anggota KKSS cukup besar, melibatkan pengurus tingkat provinsi hingga Kabupaten Badung. Aksi ini juga dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, di antaranya Yusdi Diaz dari Flobamora serta Wayan Puspanegara, tokoh Legian yang kini menjabat anggota DPRD Badung dari Fraksi Partai Gerindra.
Wayan Puspanegara mengungkapkan bahwa persoalan sampah pantai di Badung bukan hal baru, terutama saat musim angin barat.
“Pembersihan sebenarnya dilakukan setiap hari. Tapi saat musim angin barat, volume sampah bisa mencapai sekitar 200 ton per hari. Ini jelas membuat kami kewalahan,” jelasnya.
Menurutnya, jenis sampah yang terbawa arus laut juga sangat beragam dan sulit dipilah. Mulai dari kayu gelondongan, ranting, plastik, hingga peralatan rumah tangga yang diduga berasal dari berbagai wilayah.
“Bisa dari sungai di sekitar Bali atau dari daerah lain. Sampah-sampah itu mengapung di laut dan saat angin barat bertiup, semuanya terdorong ke pesisir,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi sektor pariwisata. Meski pantai terlihat bersih di media sosial, wisatawan kerap kecewa saat datang langsung di musim tertentu.
“Di hari sebelumnya pantai terlihat indah di Instagram. Tapi begitu datang saat musim angin barat, yang terlihat justru tumpukan sampah,” sambung Puspanegara.
Ia menyinggung ulasan dari Fodor’s, salah satu panduan perjalanan asal Amerika Serikat, yang sempat merekomendasikan agar pantai di Bali tidak dikunjungi akibat kondisi sampah yang ditemui sejak Desember.
Meski demikian, Puspanegara menegaskan bahwa upaya penanganan tetap harus dilakukan secara konsisten.
“Apa pun tantangannya, kita harus tetap bergerak. Sekecil apa pun langkah yang dilakukan, itu bentuk kepedulian kita terhadap pantai dan pariwisata Bali,” pungkasnya.(*)